Diagnosa Kanker Payudara


Wanita umumnya didiagnosa menderita kanker payudara setelah melakukan skrining kanker payudara rutin, atau setelah mendeteksi tanda-tanda dan gejala tertentu dan memeriksakan diri ke Dokter.

Jika seorang wanita mendeteksi tanda-tanda kanker payudara dan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dia harus berbicara dengan dokter segera. Dokter, seringkali dokter umum, pada awalnya akan melakukan pemeriksaan fisik, dan kemudian merujuk pasien ke dokter spesialis jika menurutnya pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Di bawah ini adalah contoh tes dan prosedur untuk diagnostik kanker payudara:

Pemeriksaan Payudara

Dokter akan memeriksa kedua payudara pasien, mencari benjolan dan kelainan lainnya yang mungkin, seperti puting terbalik, pengelupasan puting, atau perubahan bentuk payudara. Pasien akan diminta untuk duduk/berdiri dengan tangan di posisi yang berbeda, seperti di atas kepalanya dan kedua sisi tubuhnya.

X-ray (mammogram)

Biasa digunakan untuk skrining kanker payudara. Jika sesuatu yang tidak biasa ditemukan, dokter akan melakukan mammogram diagnostik.

Skrining kanker payudara telah menjadi topik yang kontroversial selama beberapa tahun terakhir. Para ahli, organisasi profesi, dan kelompok pasien saat ini tidak menemui kesepakatan mengenai kapan saat skrining mamografi harus mulai dan seberapa sering harus dilakukan Beberapa mengatakan skrining rutin harus dimulai ketika seorang wanita berusia 40 tahun, yang lain bersikeras pada 50 tahun sebagai usia terbaik, dan beberapa percaya bahwa hanya kelompok risiko tinggi harus melakukan skrining rutin.

Pada Juli 2012, The American Medical Association mengatakan bahwa perempuan harus memenuhi syarat untuk skrining mamografi dari usia 40, dan harus ditanggung oleh asuransi.
Dalam Laporan Khusus jurnal The Lancet (edisi 30 Oktober 2012), sebuah panel ahli menjelaskan bahwa skrining kanker payudara tidak mengurangi risiko kematian akibat penyakit tersebut. Namun, mereka menambahkan bahwa hal itu juga menciptakan lebih banyak kasus hasil positif palsu, dimana perempuan akhirnya harus menjalani biopsi yang tidak perlu dan tumor yang tidak berbahaya diangkat melalui pembedahan.

Studi lain, yang dilakukan oleh para ilmuwan di The Dartmouth Institute for Healthy Policy & Clinical Practice di Lebanon, NH, dan dilaporkan dalam New England Journal of Medicine (edisi November 2012), menemukan bahwa mammogram tidak mengurangi angka kematian kanker payudara.

Sebuah tim dari University of Copenhagen melaporkan bahwa wanita yang memiliki hasil mammogram positif palsu mungkin menderita stres jangka panjang dan kecemasan, dalam beberapa kasus, ini bisa bertahan hingga tiga tahun. Mereka menerbitkan temuan mereka dalam Annals of Family Medicine (edisi Maret 2013).

Peneliti dari Barbara Ann Karmanos Cancer Institute di Detroit, Michigan, menemukan bahwa angka kematian kanker payudara lebih tinggi pada wanita lebih tua yang waktu-penyimpangan antara mammogram terakhir dan diagnosis kanker payudaranya lebih lama. Mereka mempresentasikan temuan mereka di Pertemuan Tahunan American Association for Cancer Research (AACR) 2013.

Pemimpin tim, Michael S. Simon, MD, MPH, mengatakan, "Kami menemukan bahwa untuk wanita usia 75 dan lebih tua, interval waktu yang lebih lama antara mammogram terakhir dan tanggal diagnosis kanker payudara dikaitkan dengan kesempatan yang lebih besar untuk meninggal akibat kanker payudara."

Mammogram 2D Dikombinasikan dengan Mammogram 3D

Peneliti dari University of Sydney School of Public Health, Australia, melaporkan dalam The Lancet Oncology bahwa mammogram 3D, bila digunakan dalam kolaborasi dengan mammogram 2D biasa, diketahui menurunkan kejadian positif palsu.

Para peneliti menskrining 7.292 wanita dewasa, dengan usia rata-rata 58 tahun. Skrining awal mereka dilakukan dengan menggunakan mammogram 2D, dan kemudian mereka menjalani kombinasi mammogram 2D dan 3D.

Profesor Nehmat Houssami dan tim menemukan 57 kanker pada 59 pasien. 66% dari kanker terdeteksi di keduanya, 2D dan gabungan screening 2D/3D. Namun, 33% dari kasus tersebut hanya terdeteksi menggunakan kombinasi 2D ditambah 3D.

Tim juga menemukan bahwa screening 2D ditambah kombinasi 3D dikaitkan dengan jumlah positif palsu yang jauh lebih rendah. Bila menggunakan hanya pemeriksaan 2D ada 141 positif palsu, dibandingkan dengan 73 positif palsu bila menggunakan kombinasi 2D ditambah 3D.

Prof. Houssami mengatakan "Meskipun kontroversial, skrining mamografi adalah satu-satunya strategi deteksi dini di tingkat populasi yang telah terbukti mengurangi angka kematian kanker payudara dalam percobaan acak. Terlepas perdebatannya, upaya-upaya harus dilakukan untuk menyelidiki metode yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat dari skrining mamografi.

Kami telah menunjukkan bahwa mamografi terpadu 2D dan 3D dalam skrining populasi pada kanker payudara meningkatkan deteksi kanker payudara dan dapat mengurangi positif palsu. Hasil kami tidak menjamin perubahan segera pada praktik skrining payudara, sebaliknya, hasil penelitian ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk melakukan percobaan acak terpadu terkontrol pada 2D dan 3D vs 2D mamografi."

Beasts USG

Jenis scan ini dapat membantu dokter memutuskan apakah benjolan atau kelainan yang ada merupakan massa padat atau kista berisi cairan.

Biopsi

Contoh jaringan dari suatu kelainan, seperti benjolan, diambil dan dikirim ke laboratorium untuk analisis. Jika sel-sel kanker ditemukan, laboratorium juga akan menentukan jenis kanker payudara tersebut, dan keganasannya (agresivitas). Para ilmuwan dari Technical University of Munich menemukan bahwa untuk diagnosis yang akurat, beberapa situs tumor perlu diambil.

MRI (Magnetic Resonance Imaging) Payudara

Pewarna akan disuntikkan ke pasien. Jenis scan ini membantu dokter menentukan sejauh mana penyebaran kanker (stadium). Peneliti dari University of California di San Francisco menemukan bahwa MRI memberikan indikasi respon tumor payudara yang berguna untuk kemoterapi pra-operasi jauh lebih awal daripada melalui pemeriksaan klinis.

Stadium menggambarkan sejauh mana penyebaran kanker dalam tubuh pasien dan didasarkan pada apakah invasif atau non-invasif, seberapa besar tumor, apakah kelenjar getah bening terlibat dan berapa banyak, dan apakah telah terjadi metastasis (menyebar ke bagian lain dari tubuh).

Stadium kanker merupakan faktor penting dalam menentukan pilihan pengobatan yang direkomendasikan, dan dalam menentukan prognosis pasien.

Stadium dilakukan setelah kanker didiagnosis. Untuk menentukan stadium, dokter akan melakukan beberapa tes yang berbeda, termasuk tes darah, mammogram, sinar-X dada, scan tulang, CT scan, atau PET scan.


PREVIOUS:
Penyebab Kanker Payudara                                                 

NEXT:

Share this article :
 
Comments
0 Comments

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. info-kes.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger